Sebelum Membeli, Waspadai Kejanggalan-Kejanggalan Developer Properti!

    2018-10-09

Kartono, S.H.I, MH

Oleh:

Kartono, S.H.I, MH

Akademisi, Advokat dan Konsultan Hukum Properti Syariah

kartonoshimh@gmail.com

HarianProperty.com-Membeli rumah melalui pengembang memiliki keuntungan tersendiri bagi calon pembeli yang tidak cukup banyak waktu untuk hunting perumahan secara langsung. Salah satu keuntungannya, Anda tidak perlu bersusah payah untuk datang ke bank dalam mengurusi perihal persyaratan. Sebab, pihak pengembanglah yang akan menjadi pihak ketiga yang akan mengurusi semuanya. Bahkan, Anda hanya tinggal memberikan Down Payment kemudian menyiapkan dokumen-dokumen yang harus dilengkapi.

Baca juga: Memahami Perjanjian Perikatan Jual Beli (PPJB) Sebelum Membeli Properti

Begitu mudahnya membeli rumah dari pengembang, apakah demikian?

Ternyata dalam realitasnya banyak kasus yang diadukan konsumen kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terkait dengan properti, diantarnya: Mengenai wanprestasi keterlambatan penyerahan kunci maupun direalisasikannya pembangunan rumah yang sudah dijanjikan, konsumen merasa ditipu oleh developer yang menjanjikan penyerahan sertifikat setelah pembayaran rumah lunas dan kasus-kasus lainnya.

Hal terpenting yang perlu diwaspadai oleh calon pembeli sebelum menjadi korban pengembang yang nakal dengan memahami kejanggalan-kejanggalan developer, di antaranya:

1.Praktik pengembang yang menjual perumahan atau apartemen berdasarkan desain semata melanggar Undang-undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman Pasal 42 ayat 2(e). Berdasarkan UU, pengembang seharusnya baru boleh menjual unit apartemen apabila sudah membangun sedikitnya 20% dari perumahan yang dijual.

2. Perusahaan pengembang yang tidak terdaftar dalam daftar perusahaan (handelsregister) sesuai dengan Undang-Undang No.3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan.

3. Perusahaan pengembang (developer) tidak memiliki izin usaha perdagangan sesuai dalam pasal 24 ayat 1 Undang-Undang No.7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan.

4. Perusahaan pengembang (developer) tidak termasuk keanggotan Real Estate Indonesia (REI)

5. Perusahaan pengembang (developer) tidak memiliki izin lokasi sesuai pasal 2 Permendagri No.3/1987 dan Undang-Undang No.1 Tahun 2011 Tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Nah, agar lebih mudah Anda mengetahui kredibilitas pengembang. Pastikan pengembang tersebut berkecimpung di dunia properti sudah terpercaya dengan proyek-proyek yang ditanganinya dengan memiliki rumah contoh, perhatikan ketepatan waktu dan kesigapan menangani konsumen dalam hal menyelesaikan proses akad atau ketika ada komplain akan rumah yang baru ditempati, pengembang melakukan fast respond dan perhatikan bank mana saja yang melakukan kerja sama dengan pengembang. Banyak bank berkredibilitas tinggi yang bekerja sama menjadi salah satu poin memilih pengembang.

Baca juga: Awas Jangan Sembarangan Merekrut Marketing Outsource

Editor     : Gunawan

Comment

Comodo SSL