Awas Jangan Sembarangan Merekrut Marketing Outsource

    2018-08-07

Mardiman Sane.,SH,MH

(Advokat dan Konsultan Hukum Properti)

HarianProperty.com-Judul tulisan ini bisa saja multitafsir. Tapi sebenarnya saya memberi judul ini karena melihat sebuah iklan “DICARI KARYAWAN MARKETING PROPERTI ” dari Perusahaan yang sedang berkembang.

Iklan dan kenyataan kadang tidak kalah absurd-nya sebelum dikaji lebih dalam. Apalagi beberapa hari terakhir situs-situs media online ramai memberitakan soal demo para “marketing properti ” sebuah megaproyek yang bikin pembeli maupun investor properti mengernyitkan kening seraya berpikir “marketingnya aja belum dibayar, gimana nasib properti  saya?,”. Okay, agar tidak berpolemik, saya bahas sedikit soal ini.

Biasanya dan lumrah terjadi, tenaga pemasar produk barang dan jasa termasuk properti  adalah pegawai lepas atau outsourcing. Secara umum, pegawai outsourcing terdiri dari dua jenis yakni:

1. Pegawai Outsourcing Borongan

Karyawan atau pegawai outsourcing borongan merupakan pegawai yang bekerja pada sebuah perusahaan, misalnya saja perusahaan A, namun sebenarnya ia bukanlah pegawai dari perusahaan A tersebut melainkan ia adalah pegawai dari perusahaan lain misalnya B, yang menjadi supplier pegawai oleh sebuah perusahaan yang menjadi pengguna jasanya yakni perusahaan A, untuk mengerjakan sebuah pekerjaan khusus tertentu dan dalam waktu tertentu.

Status pegawai tersebut di bawah naungan perusahaan B merupakan pegawai kontrak yang telah dikontrak dalam jangka waktu tertentu. Perusahaan B tersebut bisa dikatakan sebagai broker karyawan.

2. Pegawai Outsourcing Peorangan

Pegawai outsourcing perorangan merupakan pegawai yang bekerja pada sebuah perusahaan misalnya perusahaan A, dimana sebenarnya yang bersangkutan bukanlah pegawai tetap dari perusahaan tersebut (perusahaan A), akan tetapi pegawai tersebut dikontrak oleh perusahaan itu (perusahaan A), untuk diminta mengerjakan suatu pekerjaan khusus dalam tenggang waktu tertentu, misalnya untuk kepentingan suatu project.

Baca juga: Kamu Mau Bisnis Jual-Beli Kaveling? Eits Pahami Dulu Hukumnya Ya!

Perbedaan mendasar antara yang bersifat borongan atau perorangan yakni terletak pada broker atau perusahaan B tadi. Untuk pegawai outsourcing perorangan, pegawai langsung berhubungan dengan perusahaan A tanpa harus melalui perusahaan B seperti pada Pegawai outsourcing borongan di atas.

Payung hukum outsourcing di Indonesia adalah Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2012 tentang Syarat-Syarat Penyerahan Sebagian Pelaksanaan Pekerjaan Kepada Perusahaan Lain. Yang dapat di-outsourcing kan adalah : 1). Usaha pelayanan kebersihan (cleaning service), 2). Usaha penyediaan makanan bagi pekerja/buruh (catering) 3). Usaha tenaga pengaman (security/satuan pengamanan), 4). Usaha jasa penunjang di pertambangan dan perminyakan; dan 5). Usaha penyediaan angkutan bagi pekerja/buruh.

Masih menjadi polemik apakah marketing bisa menjadi karyawan outsourcing yang dibayar berdasarkan pencapaian target penjualan. Jika dilihat dari Permenakertrans diatas jelas tenaga permasar tidak bisa dijadikan karyawan alih daya atau outsourcing.

Contohnya adalah Bank. Kegiatan pemasaran karena termasuk dalam inti kegiatan, maka tidak bisa memakai pola outsourcing. Alasan beberapa perusahaan properti  biasanya adalah : “pemasaran properti  kan per-proyek.

Kalo sudah laku semua, maka tenaga pemasaran tidak diperlukan lagi”. Memang masalah ini selayaknya menjadi perhatian asosiasi-asosiasi pemasaran properti  semisal AREBI atau bahkan REI agar para tenaga pemasar di industri properti  ke depan menjadi jelas status hukumnya.

Tidak ada demo, produknya juga laris manis. Semoga

Comment

Comodo SSL