Dr. Timothy Astandu Raih Rekor MURI “Insan Indonesia yang Mengunjungi Negara Berdaulat Terbanyak”

    2026-07-23

 

Jakarta, 23 Juli 2026 - Baru-Baru ini Dr. Timothy Astandu berhasil memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) sebagai “Insan Indonesia yang Mengunjungi Negara Berdaulat Terbanyak”. Dr. Timothy berhasil menjadi orang pertama yang menggunakan paspor Indonesia untuk menuntaskan seluruh 197 negara dan wilayah di dunia yang kedaulatannya diakui oleh PBB, dengan Brasil sebagai penutup pada bulan Mei lalu.

Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Jaya Suprana, selaku pendiri Museum Rekor-Dunia Indonesia, pada hari Kamis, 16 Juli 2026, di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Dr. Timothy menerima penghargaan ini didampingi oleh istri dan ibundanya.

"Secara khusus saya mengajak ibu saya untuk menerima penghargaan dari MURI. Karena beliau-lah yang telah menurunkan hobi menjelajah ini, dimulai dari kunjungan ke negara Jerman saat saya berusia satu tahun. Sayangnya, karena usia dan kesehatan, ibu saya berhenti setelah mencapai negara ke-87, dan saya yang berhasil melanjutkan semangatnya menuntaskan seluruh negara di dunia," ungkap Dr. Timothy Astandu.

Rekor MURI menjadi penegasan capaian Dr. Timothy di dalam negeri. Pasalnya, MURI adalah lembaga pencatat rekor pertama dan tertua di Indonesia yang telah mencatat lebih dari 12.000 prestasi dalam negeri. Sebelumnya, Dr. Timothy telah mendapat pengakuan dari tiga organisasi perjalanan internasional paling bergengsi di dunia, yaitu Travelers' Century Club (TCC), NomadMania, dan Most Traveled People (MTP).

Tak kalah menarik, alumni University of Oxford dan University of Cambridge ini juga meluruskan narasi yang selama ini beredar tentang kelemahan paspor Indonesia. Menurutnya, paspor Indonesia justru memiliki keunggulan yang jarang disadari.

"Pencapaian saya menjadi bukti bahwa paspor Indonesia tidak lemah. Kalau tujuannya adalah ke negara-negara maju, memang benar pemegang paspor Indonesia lebih sulit. Tapi paspor Indonesia bisa digunakan untuk mengunjungi semua negara. Itu blessing in disguise. Tidak ada negara yang secara khusus memblokir Indonesia."

Ia menyebut gerakan Non-Blok sebagai salah satu alasan historis di balik ini. Karena Indonesia tidak pernah memihak pada blok mana pun secara politik, paspor Indonesia justru memiliki akses diplomatik ke hampir seluruh negara di dunia, termasuk wilayah yang tertutup bagi pemegang paspor negara lain seperti Korea Utara, Afganistan, Rusia, dan Suriah.

Misi penjelajahan Dr. Timothy dilakukan sambil menjalankan peran tak hanya di keluarganya, tetapi juga sebagai pemimpin perusahaan. Sejak tahun 2018 silam, beliau dan dua rekannya membangun Populix, perusahaan konsultasi berbasis riset. Beliau dipercaya untuk memegang kendali utama perusahaan sebagai CEO sekaligus Co-founder.

"Saya harus pintar membagi waktu. Saya harus memutar otak agar perjalanan saya efisien. Mulai dari mencuri waktu di akhir pekan atau libur panjang, hingga terbang di Jumat malam dan pulang kembali di Minggu sore agar langsung dapat bekerja di Senin pagi. Namun, saya sangat menikmati dan mensyukurinya. Karena semangat menjelajah dan rasa ingin tahu terhadap manusia inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Populix.”

Dalam perjalanannya keliling dunia, Dr. Timothy berbincang dan bertukar informasi dengan beraneka ragam manusia dari berbagai latar belakang sosial dan ekonomi. Ia selalu menemukan perspektif berbeda di sela obrolan sederhana, yang sering kali, mengungkap realitas berbeda dengan asumsi dan stereotip yang ada. Hal inilah yang menginspirasinya untuk mendirikan Populix, dengan harapan suara-suara dan perspektif lain ini dapat didengarkan secara akurat, tanpa asumsi. Nama Populix sendiri diambil dari bahasa Latin “vox populi”, yang secara harfiah berarti suara rakyat dan dapat diartikan sebagai opini atau pandangan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. 

Populix menghadirkan layanan riset untuk membantu bisnis, institusi, bahkan masyarakat umum untuk memahami konsumen, pemangku kepentingan, dan publik secara luas. Dukungan ini diwujudkan melalui layanan riset pasar, riset kebijakan dan masyarakat, platform swa-survei PopSurvey, dan yang terbaru, AskLumia, platform riset dengan dukungan kecerdasan buatan (AI). Kesemuanya memfasilitasi kebutuhan riset dalam bentuk kuantitatif dan kualitatif dengan lebih dari 1,3 juta responden di seluruh Indonesia dan Asia Tenggara.

"Setelah ini, target capaian saya selanjutnya adalah menuntaskan perjalanan ke seluruh provinsi di Indonesia dan menjadi orang Indonesia pertama yang menaiki 200 merek maskapai penerbangan di dunia. Saat ini saya masih kurang mengunjungi 6 provinsi di Indonesia, khususnya di Papua yang beberapa waktu lalu mengalami pemekaran. Selain itu, saya juga masih perlu menaiki sekitar 8 maskapai lagi. Harapannya kedua capaian tersebut bisa saya tuntaskan di akhir tahun nanti," pungkas Dr. Timothy Astandu.

Editor     : Gunawan

Comment

Comodo SSL