Perempuan Berdaya Finansial: Kunci Stabilitas Keluarga dan Wujudkan Rumah Impian
- 2026-05-19
Jakarta, 19 Mei 2026 – Seiring berkembangnya peran perempuan sebagai istri dan ibu, kemampuan dalam mengelola keuangan kini menjadi aspek penting dalam mendukung kesejahteraan keluarga. Peran tersebut tercermin melalui kontribusi perempuan dalam mengatur kebutuhan harian hingga mewujudkan impian masa depan termasuk kepemilikan rumah. Maka dari itu, di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan perencanaan masa depan, literasi finansial menjadi bekal utama bagi perempuan dalam menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga.
Melalui talk show online bertajuk “Kartini Jaman Now: Pintar Atur Uang, Wujudkan Rumah Impian”, Pinhome bersama Jennittya Fitri Hidayat, Financial Planner, dan Rizky Amalia, Head of Finance Komunitas Ibu Punya Mimpi, mengulas peran perempuan dalam menjaga stabilitas finansial keluarga serta tips bagi ibu untuk menjadi lebih berdaya secara finansial dan cerdas dalam mengelola keuangan rumah tangga.
Kemampuan ibu dalam mengatur prioritas pengeluaran menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kesehatan finansial keluarga. Jennittya menyebutkan bahwa ibu memiliki peran strategis dalam memastikan keuangan keluarga tetap terarah, mulai dari memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga mewujudkan tujuan jangka panjang seperti rumah impian. “Meski tidak selalu menjadi pencari nafkah utama, ibu berperan penting dalam menentukan prioritas pengeluaran agar kebutuhan keluarga terpenuhi dan tujuan besar, termasuk memiliki rumah impian, tetap dapat tercapai. Karena itu, ibu dapat disebut sebagai ‘Menteri Keuangan’ keluarga,” jelas Jennittya.
Namun demikian, Rizky menambahkan bahwa masih ada beberapa hal yang kerap terlewat dalam pengelolaan keuangan rumah tangga yang sering kali tidak disadari namun dapat berdampak besar. Biaya tambahan seperti ongkos kirim, parkir, biaya administrasi, hingga pengeluaran impulsif melalui aplikasi belanja perlu diperhitungkan dalam pos keuangan bulanan. “Jika diakumulasi, pengeluaran kecil ini bisa cukup besar. Karena itu, penting untuk tetap disiplin terhadap anggaran yang sudah dibuat serta menyiapkan pos khusus untuk kebutuhan tak terduga agar pengeluaran keluarga tetap terkontrol,” ungkap Rizky.
Sebagai tips pengelolaan keuangan keluarga, Jennittya menyarankan total cicilan utang tidak melebihi 35% dari penghasilan bulanan, termasuk cicilan rumah dan kewajiban lainnya. Untuk keluarga dengan single income atau penghasilan tidak tetap, porsi idealnya berada di kisaran 20–25% agar tetap ada ruang untuk kebutuhan hidup, dana darurat, dan tabungan pendidikan anak. “Impian punya rumah itu harus bikin keluarga tenang, jangan sampai setiap tanggal tagihan malah bikin stres,” ujar Jennittya.
Bagi keluarga yang ingin mengetahui besaran cicilan rumah yang sesuai dengan kondisi keuangan atau ingin lebih hemat cicilan, kini dapat lebih mudah mengeceknya melalui aplikasi Pinhome. “Pinhome menghadirkan kemudahan bagi masyarakat untuk tidak hanya mencari rumah sesuai budget, tetapi juga memahami kemampuan finansial dan gambaran cicilan sejak awal melalui fitur Pencarian Properti dan Simulasi KPR. Selain itu, Pinhome juga memiliki fitur Simulasi dan Konsultasi KPR Takeover untuk masyarakat yang mau lebih hemat ketika sudah memiliki cicilan yang berjalan. Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, KPR Takeover menjadi solusi yang semakin diminati karena dapat membantu pengguna menghemat cicilan hingga 40% dengan peluang kembali masuk ke masa bunga fixed. Melalui layanan KPR Takeover di Pinhome, pengguna juga dapat menikmati proses yang mudah dan praktis, gratis mulai dari simulasi hingga akad, tenor fleksibel, pengajuan ke banyak bank sekaligus, cashback jutaan rupiah, serta dukungan dari lebih dari 40 bank dan institusi keuangan terkemuka,” ujar Dayu Dara Permata, CEO Founder Pinhome.
Rumah tangga akan lebih stabil ketika seorang ibu mampu memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan, serta menjaga konsistensi dalam menabung. “Mengatur keuangan bukan berarti pelit, tapi justru memastikan uang digunakan untuk hal yang benar-benar penting bagi keluarga,” jelas Jennittya. Ia juga menekankan bahwa kontribusi ibu tidak selalu harus melalui penambahan penghasilan, tetapi bisa dimulai dari mencegah kebocoran keuangan dan mengarahkan pengeluaran pada tujuan yang lebih terencana, sehingga setiap ibu dapat tetap berdaya dari lingkup keluarga kecilnya.
“Perempuan, khususnya ibu dalam keluarga, berperan sebagai pilar dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Karena itu, literasi finansial menjadi hal yang perlu terus ditingkatkan agar kita bisa lebih percaya diri dalam mengatur keuangan dan memahami instrumen finansial. Saat ini akses untuk belajar sudah sangat terbuka, tinggal bagaimana kita mau mulai dan konsisten belajar. Dengan begitu, peran sebagai ‘Menteri Keuangan keluarga’ bisa dijalankan dengan lebih optimal untuk membantu mencapai tujuan finansial jangka panjang,” tutup Rizky.


Comment