Jangan Lagi Percaya Dengan Lokasi

    2019-04-10

Ilustrasi

Bertahun-tahun faktor lokasi strategis masih menjadi alasan utama bagi pengembang dalam membangun properti yang ideal. Padahal, di tengah kondisi semakin sulitnya mendapatkan lokasi emas, ada baiknya memperhatikan faktor konsep, fasilitas dan kemudahan transportasi agar proyek Anda bisa tetap laris manis meskipun berada di tengah hutan.

Dulu, medio tahun 2000-an satu-satunya akses untuk menuju sebuah wilayah bernama Maja hanya bisa dilakukan dengan kendaraan bermotor baik mobil maupun motor. Kereta ada, tapi bukan model commuter line seperti saat ini yang sangat mudah, murah, terjangkau dan frekuensi keberangkatannya terbilang sering.

Seingat saya, PT KAI menyediakan kereta bernama Merak Jaya tujuan terakhir Stasiun Merak yang dalam sehari hanya menyediakan dua kali perjalanan per enam jam se-kali dan itu pun tidak berhenti di Stasiun Maja. Tentunya hal tersebut sangat menyulitkan jika Anda atau Saya bertempat tinggal di Maja.

Namun kini kondisinya berbeda. Setelah pengembang raksasa Ciputra menancapkan kuku pengembangannya di kawasan sana, Maja seolah menjadi salah satu lokasi favorit bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya dalam mencari hunian yang selama ini diidam-idamkan.

Tak heran jika sejak diluncurkan tiga tahun terakhir, tercatat pada 2017 saja, 4000 unit berhasil terjual, real bukan sekadar NUP semata. Torehan tersebut tentu membuka mata kita bahwa sekalipun properti berada di area “ujung berung” namun jika difasilitasi dengan kemudahan akses dan transportasi plus memberikan fasilitas-fasilitas terbaik serta konsep yang brilian, bukan tak mungkin akan laku keras.

Contoh lain sebut lah Bekasi. Hampir mirip dengan Maja, sekian lama Bekasi dicap sebagai kawasan paling tidak ideal untuk pengembangan properti. Meski nama sebesar Metropolitan Land sudah memulainya sejak 20 tahun lalu, namun faktanya belum banyak pengembang yang berani menjamah Bekasi dengan beragam alasan. Barulah belakangan ini Bekasi menjadi lokasi paling favorit bagi banyak pemain. Mulai dari Summarecon, Pikko Land sampai pengembang plat merah PP Properti dan Adhi Karya.

Khusus untuk dua nama terakhir bahkan berhasil menciptakan tren baru dalam investasi properti dengan prestasi penjualan proyeknya yang fantastis. Ditambah lagi dengan gerak ajaib Summarecon dengan apartemen Spring Lake-nya yang juga tak kalah mentereng.

Pada akhirnya, lokasi memang penting. Tapi apalah arti lokasi jika tidak disokong dengan kemudahan transportasi, fasilitas mumpuni serta harga yang bersahabat di kantong?

Anton Sitorus, Director Head of Research & Consultancy Savills saat ditemui di kantornya mengatakan bahwa konsumen saat ini sudah semakin pintar dalam mencari hunian. Lokasi ujarnya memang masih menjadi concern pertama bagi mereka. Tapi apakah lokasinya mudah dijangkau? Bagaimana dengan ketersediaan transportasi publiknya?

“Konsumen harus melihat juga faktor akses, transportasi, fasilitas apa yang tersedia dan berapa harganya. Saya kira dengan merujuk pada hal tersebut, konsumen jangan ragu untuk membeli atau investasi,” katanya.

Meskipun terlihat paradoks dengan kenyataan sejumlah pemberitaan media yang menyebutkan investasi properti masih banyak tertahan karena beberapa alasan yang sudah sering diulas, toh gairah untuk memiliki hunian bagi masyarakat Indonesia hampir dipastikan tidak pernah padam. 

Itu pula yang disampaikan oleh F. Rach Suherman, Founder F. Rach Management yang juga pengamat investasi properti dengan merilis pernyataan, bahwa di properti dengan harga murah, unit tetap laris manis. “Proyek-proyek FLPP tercapai mendekati  satu juta unit dan developer besar nimbrung membuat dalam bentuk landed maupun highrise. Contoh, terdapat properti murah dibangun oleh Ciputra berada di Desa Maja (Citra Maja Raya) yang ludes ribuan unit dalam waktu sebulan karena daya tarik moda kereta api double track yang sudah beroperasi dari Pandeglang menuju Tanah Abang melalui BSD dan Bintaro Jaya,” ujarnya dalam jawaban tertulis yang diterima redaksi Harianproperty.com.

Lalu ada juga properti murah berkonsep vertikal dengan respons pasar yang tak kalah seru, seperti Agung Podomoro yang membangun Podomoro Golf View. Dan barang tentu sang fenomenal, gebrakan Lippo Group pada Meikarta yang heboh dengan klaim penjualan mencapai ratusan ribu unit dalam beberapa bulan.

Sementara di pangsa premium yang digadang-gadang mengalami kebuntuan berkepanjangan, faktanya banyak juga cerita sukses bertebaran. F. Rach tak segan menyebut nama Anandamaya milik Astra Landdi Sudirman, Casa Domain di Karet Pejompongan, Mangkuluhur City dan Gayanti keduanya di Gatot Subroto, Pondok Indah dan Langham Residence adalah sebagian dari proyek-proyek premium di Ibukota yang penjualannya baik-baik saja dimasa paceklik properti. 

“Pasar premium tidak memiliki sensitivitas harga melainkan sangat peka kepada stabilitas politik dan sosial. Kebijakan orang asing boleh membeli dengan status khusus dan harga minimal, telah menjadi salah satu booster dari larisnya apartemen mewah Jakarta,” urainya.

Artinya, musim paceklik investasi yang dianggap telah meradang berkepanjangan masih memiliki oase yang menyegarkan bagi laju industri properti saat ini.

Kuncinya, baik Anton maupun F. Rach adalah bermain di konsep yang menarik, kemudahan cara pembayaran, memberikan kemudahan akses transportasi serta fasilitas memadai. Dan jangan lupakan soal kreatifitas dalam memberikan supplai kepada pasar sehingga konsumen bisa terus bergairah dan berhasrat untuk membeli properti.

Lokasi memang penting, sayangnya ia tak lagi mendominasi

Editor     : Redaksi

Comment

Comodo SSL