New Normal dan Jebakan Baru Kota Satelit Bekasi
- 2020-12-02
Empat tahun sebelum badai Covid-19, ekonomi Kota Bekasi secara riil telah menunjukkan perlambatan. Saya tegaskan dahulu, bahwa opini ini telah menyederhanakan data-data rumit. Karena sebelumnya, Bank Dunia (2019), telah memverfikasi ekonomi Indonesia tumbuh memang melambat, ini berdampak pada geliat ekonomi Kota Bekasi.
Kini, ditengah kondisi optimisme meredanya serangan musuh yang tak kasat mata, tentunya dalam banyak aspek dampak Covid-19 menambah bobot nilai ekonomi tumbuh makin negatif. Tapi, dibalik semua itu, Pemerintah Kota, bersama warganya harus kreatif keluar dari jebakan baru, New Normal.
Pertama, yang kasat mata adalah kemunculan Klaster Baru, turun tahta. Yaitu, berupa ketidakmampuan kelompok ini memitigasi risiko datangnya badai Convid-19, bertambahnya kluster warga miskin baru. Dan, kita tahu hal ini sebagai tantangan, mengingat tambahan tersebut berasal dari klaster kelas menengah yang memiliki keterampilan serta berpendidikan cukup.
Walau sebelum ada Covid-19 pun, masih ada warga kota miskin, yang kemiskinannya ditampilkan secara absolut tersembunyi, dibalik kritik-kritik terbuka oleh berbagai pihak. Untungnya, pemerintah daerah, selama ini selalu piawai menjaga momentum dengan baik. Karena skornya, selama ini selalu di atas pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional. Namun, kini dan masa pemulihan paska pandemik (recovery), pertumbuhan ekonomi tersebut diharapkan tidak lagi bergantung pada kondisi sebelum ada Convid-19. Di masa lalu, Kota Bekasi bertumbuh positif karena masih bergantung kepada berkah faktor geografik, demografik, serta gaya hidup konsumtif rumah tangga kelas menengah yang konsumtif. Ekonomi konsumsi rumah tangga ini, yang oleh para ahli dimasukkan sebagai pilar ketiga pendorong pertumbuhan, selain adanya investasi dalam/luar negeri serta belanja pemerintah melalui APBN/D.
Laporan BPS (2019) menunjukkan, indeks IPM Kota Bekasi meningkat, yang merepresentasikan pendapatan, pendidikan dan kesehatan warganya. Namun masih ada ironi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut hanya dinikmati oleh sebagian kecil warganya, yang semakin kaya serta meninggalkan si miskin (yang kini jumlah absolutnya diprediksi makin banyak), jauh dibawahnya.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,8 juta jiwa, Kota Bekasi sebelum ini ketiban "bonus demografi", berkah yang banyak menguntungkan ekonomi wilayah ini. Namun, berkah tersebut, selama ini hanya dinikmati oleh sebagian kecil warga kelas menengah atas, yang relatif memiliki akses menjangkau seluruh sumber daya ekonomi yang tersedia. Berlatar belakang pendidikan tinggi dan terampil, kaum menengah atas ini mampu memupuk kekayaan, serta berhasil mengelola risiko-risikonya. Kondisi sebaliknya, dialami oleh kaum below of the pyramid. Karena keterbatasan literasi dasar, mereka selalu terjebak dalam lingkaran kemiskinan, sulitnya mendapatkan pendidikan yang mahal. Sejurus berikutnya, minim keterampilan, sehingga tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang berpenghasilan tinggi. Terjebak dalam lingkaran, tidak mampu mengatasi risiko, sehingga tidak dapat menabung untuk investasi, apalagi memupuk aset sebagai barang modal dikemudian hari.
Sebut saja, Kota Bekasi sangat diuntungkan karena letak geografisnya berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Terjadi pertumbuhan penduduk yang tinggi di atas rata-rata nasional tersebut, ditunjukkan dengan komposisi piramida atas, didominasi oleh penduduk usia produktif dan skill tinggi akibat urbanisasi. Ini merupakan dampak lain dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan, atau pekerjaan yang ada di daerah tidak menjanjikan penghasilan yang tinggi. Menjadikan kelompok yang kerap disebut commuter citizen. Penduduk kelas menengah baru tersebut, merupakan penyumbang positif atau nilai tambah pertumbuhan di kota-kota satelit Indonesia, seperti itulah selama dua dekade Kota Bekasi juga menikmatinya.
Jika ketiga faktor tersebut berubah menurun. Apalagi, kini didera dampak Convid-19, atau jika kelak Ibukota Jakarta, tidak lagi menjadi Pusat Pemerintahan Republik Indonesia, maka berkah penopang pertumbuhan ekonomi itu akan hilang, setidaknya berkurang. Sebagai pelengkap, apalagi sejak beberapa tahun terakhir ini. Laporan BPS (2019), bahwa Kota Bekasi sejak empat tahun terakhir, menunjukkan perlambatan laju pertumbuhan penduduk.
Artinya, kedepan ekonomi Bekasi paska pandemik, hanya dua arah-akan tumbuh melaju atau berlangsung melambat tanpa berkah sebagai kota satelit lagi. Asumsi, investasi baru tidak signifikan dan belanja Pemerintah melalui APBN/D makin ketat. Perlu dicari alternatif, pengganti penopang pertumbuhan ekonomi yang orisinal Kota Bekasi, selain mendorong ekonomi konsumsi rumah tangga klaster warga menengah atas di masa mendatang.
Pertama, perlu dilakukan penguatan kelembagaan khusus. Badan, setingkat SKPD dengan target utama menjadi tempat mengidentifikasi, merancang, merumuskan, melaksanakan dan evaluasi kegiatan produktif (ekonomi kreatif). Menetapkan subsektor ekonomi apa yang terbesar-terluas-terbanyak dampak positifnya bagi warga Kota Bekasi.
Kedua, badan kreatif daerah menyelenggarakan kegiatan dalam kerangka proyek uji coba, regulatory sandbox, seperti dimaksud di atas. Badan Kreatif Daerah, berperan sebagai Event Organizer, berkolaborasi dengan swasta profesional di bidangnya.
Ketiga, fokus mengelola subsektor ekonomi yang paling tinggi skor atas tiga kriteria sub sektor ekonominya, size, volume & multiplier effects. Subsektor yang dijadikan sebagai lokomotif, "trickle down effects. Misalnya, sub kuliner atau subsektor jasa kesehatan, atau kegiatan creative sport & olahraga prestasi. Perlu Quick Win, disertai pengelolaan kegiatan terstruktur, sistematis dan masif melibatkan sebanyak mungkin warga Kota Bekasi. Visi Kota Bekasi, yang ingin warganya Cerdas, Kreatif, Maju, Sejahtera, dan Ihsan segera mengangkat serta memulihkan kembali pertumbuhan ekonominya. Ada atau tidak dampak badai Convid-19, dan bukan sekedar jargon. Atau cuma sebatas stempel formal Pemerintah Kota Bekasi. Namun, sungguh-sungguh dan menjadi visi bersama seluruh pemangku kepentingan di wilayah ini. Sehingga, sebagian orang yaitu klaster baru warga menengah yang turun tahta sebagai lokomotif pertumbuhan, tidak terjebak kembali pada perangkap kemiskinan baru, tidak berdaya serta makin jauh tertinggal dari segelintir orang yang semakin kaya.
Oleh: Budhi Santoso


Comment