Penjualan Rumah Jabodebek-Banten Naik di Q2 2021
- 2021-08-24
foto ilustrasi Humming Bird House
JAKARTA-Pasar perumahan menunjukkan pertumbuhan landai sejak akhir tahun 2020. Memasuki Q2-2021 pasar perumahan Jabodebek-Banten mengalami pertumbuhan nilai penjualan cukup tinggi sebesar 24,4% (qtq). Meskipun demikian pertumbuhan unit terjual pada tumbuh lebih rendah sebesar 6,5% (qtq). Pertumbuhan unit terjual yang lebih rendah dari nilai penjualan ini mengindikasi bahwa harga rata-rata unit terjual lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Berdasarkan segmen harga rumah, penjualan untuk rumah sampai Rp 500 jutaan terjadi penurunan tertinggi sebesar 24,0% (qtq). Sebaliknya kenaikan terjadi di segmen harga Rp 500 juta – 1 miliar sebesar 26,2% (qtq). Yang cukup mengejutkan adalah pertumbuhan penjualan rumah di segmen diatas Rp 2 miliar yang mengalami kenaikan tertinggi 125,0% (qtq).
BANTEN: Pertumbuhan tertinggi penjualan rumah di segmen harga Rp 500 juta – 1 miliar terjadi di wilayah Banten sebesar 34,1%, begitu pula untuk segmen rumah seharga di atas Rp 2 miliar yang naik 440,0%, meskipun secara rata-rata hanya tumbuh 2,5%. Hal ini dikarenakan komposisi penjualan di segmen harga di atas Rp 2 miliar relatif hanya sebagian kecil dari pasar yang ada.
BODEBEK: Pertumbuhan penjualan di segmen harga diatas Rp 2 miliar di Bodebek mengalami peningkatan tertinggi sebesar 25,0% dibandingkan segmen harga lainnya. Penurunan hanya terjadi di segmen harga Rp 1 – 2 miliar.
DKI JAKARTA: Di wilayah DKI Jakarta peningkatan tertinggi terjadi di kisaran harga Rp 1 – 2 miliar khususnya unit-unit ready stock atau yang ikut dalam kebijakan penghapusan/pengurangan PPN untuk rumah siap huni sampai Desember 2021.
Komposisi penjualan rumah di Jabodebek Banten masih didominasi oleh segmen harga Rp 500 juta – 1 miliar sebesar 31,9%, diikuti segmen di bawah Rp 300 jutaan sebesar 29,9% yang sebagian besar terdapat di Banten. Sedangkan terjadi pergeseran yang cukup tinggi di segmen harga Rp 300 – 500 jutaan dari 25,3% menjadi 16,7%. Sebaliknya peningkatan komposisi terjadi pada segmen harga di atas Rp 2 miliar yang naik dari 1,3% menjadi 9,7%.
Pergeseran ini harusnya dapat menggambarkan apa yang sedang terjadi di pasar saat ini. Seperti yang telah diprediksi sebelumnya, pasar menengah bawah diperkirakan akan terus tertekan bila kondisi tidak juga membaik. Di sisi lain pasar menengah sampai atas terlihat relatif masih menyimpan daya beli.
Namun demikian diperkirakan tren pertumbuhan ini akan sedikit terhambat akibat PPKM yang diberlakukan di awal Q3-2021, sehingga diperkirakan pasar perumahan akan menurun pada Q3-2021 hampir di semua segmen. Hal ini semata-mata dikarenakan mobilitas yang dibatasi sehingga berpengaruh besar terhadap realisasi pembelian calon konsumen.
Peningkatan diharapkan akan tetap terjadi untuk penjualan ready stock di beberapa pengembang besar khususnya di Banten dan DKI Jakarta yang telah menunjukkan kenaikan sejak diberlakukannya kebijakan ini Q1-2021. Meskipun demikian kebijakan ini sangat tergantung ketersediaan rumah ready stock atau yang siap huni sampai Desember 2021. Selain itu stimulus pengurangan BPHTB khusus di DKI Jakarta kepada wajib pajak orang pribadi untuk perolehan pertama kali atas objek berupa rumah atau rumah susun dengan Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP) lebih dari Rp2 miliar hingga Rp3 miliar diperkirakan sedikit banyak dapat memberikan potensi peningkatan penjualan rumah baik primer maupun sekunder sampai akhri tahun 2021.
Editor: Gunawan


Comment