Dolar Tembus Rp 15 Ribu, Sektor Properti Semakin Sulit?

    2018-09-06

Jakarta, HarianProperty.com-Kurs jual dolar AS di sejumlah bank besar terpantau sudah menembus level Rp 15.000 pada Rabu (5/9/2018).

Tim HarianProperty.com pun menanyakan imbas dari keoknya rupiah ini kepada beberapa pihak mulai dari pengamat, pengembang dan riset untuk mengetahui dampaknya kepada sektor properti.

Menurut Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, tembusnya dolar AS di angka Rp 15 ribu ini tidak akan berdampak dalam waktu dekat.

“Tapi jika kondisi ini bertahan 3-6 bulan, pasti akan berdampak terhadap kenaikan harga material yang menggunakan impor seperti alumunium, kaca, besi, baja, termasuk sanitary,” ujarnya.

Ali mengatakan, saat ini bahan baku impor itu relatif. “Maksimal 5% dari biaya bangunan. Semakin murah segmen properti biasanya konten impor semakin kecil.”

Karena itu, tambah Ali, dengan kondisi pasar yang lemah saat ini, diharapkan pengembang dapat menurunkan impor karena menurutnya sulit untuk pengembang menaikan harga.

Berbeda dengan Ali, Gun Ho, Direktur Utama PT Graha Nuansa Asri (GNA Group) menulis di dejaring sosial miliknya: “Dolar 15.000, buruan beli rumah, harga rumah pasti.”

Ketika ditanya apakah GNA Group akan menaikkan harga rumah, ia pun menjawab: “Gimana enggak naik Pak? Kontraktor semua teriak minta naik. Besi naik. Tinggal tunggu waktu. Apalagi gaji tukang. Mesti naik juga.”

Menanggapi harga bahan baku yang akan naik, Asmat Asmin, Director SPS Group mengatakan bahwa daya beli masyarakat harus diwaspadai.

Meski demikian menurut Asmat, efeknya perkasanya dolar ini tidak terlalu memengaruhi pasar rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

“Dampaknya tidak sebesar properti mewah, karena yang beli itu memang karena butuh bukan investor.”

Sementara itu, Anton Sitorus, Head of Research Savills Indonesia menyatakan bahwa dampak menguatnya dolar AS tidak terlalu besar.

“Kecuali kalau harga besi dan baja naiknya lumayan, kemungkinan imbasnya bisa lebih luas termasuk kelas middle,” ujarnya.

Anton pun menyarankan agar developer mengurangi eksposure terhadap dolar AS (i.e.financing). “Caranya adalah memaksimalkan komponen lokal dari aspek development,” pungkasnya.

Editor     : Gunawan

Comment

Comodo SSL