Kisah Dimas Nekat Jadi Developer dengan Modal Rp 13 Juta

    2018-04-09

HarianProperty.com- Menjadi developer perumahan ternyata tak harus punya duit miliaran. Jika kamu ingin menjual beberapa unit saja, kamu bisa mengikuti jejak Dimas Laksmana (38) sebagai developer pribadi.

Modal nekat, pria kelahiran Jakarta tahun 1980 ini membeli tanah seluas 2.000 m2 di kawasan Jatiasih, Jawa Barat dari tuan tanah bernama Haji Jarik. Rencananya, tanah tersebut ia ingin jadikan perumahan.

“Jadi developer adalah cita-cita saya. Dulu saya ingin jadi arsitek, tapi enggak kesampaian karena terkendala biaya,” ujar Dimas ketika HarianProperty.com menyambangi proyeknya.

Anehnya, tanah yang harusnya Dimas bayar ratusan juta rupiah, ia beli hanya dengan uang Rp 13 juta. Kok bisa ya? Kepada HarianProperty.com, Dimas pun menuturkan kisah uniknya.

“Haji Jarik itu terkenal, kalau mau beli tanahnya, taruh berapa pun duit yang kita punya di hadapannya,” cerita Dimas.

Kala itu, lanjut Dimas, setelah beberapa kali merayu Haji Jarik, akhirnya tuan tanah itu setuju untuk menjual tanahnya.

Tibalah saat Dimas dan Pak Haji bertemu di notaris untuk mengurus balik nama dan segala macam tetek bengeknya.

“Waktu itu saya cuma punya uang Rp 50 juta. Biaya untuk mengurus notaris ternyata Rp 37 juta. Di situ saya bingung, enggak punya duit lagi,” ucap Dimas mengenang kejadian lucu tersebut.

“Duitnya mana?” tanya Haji Jarik. “Saya cuma punya Rp 50 juta Pak Haji,” timpal Dimas.

“Loe gimana sih, mau beli tanah tapi enggak punya duit,” kata Pak Haji dengan nada kesal sambil menghitung duit Rp 50 juta yang seharusnya jadi uang muka.

Keterangan foto: Fasad rumah Lastana Hill tipe 41/67

Berkat kebaikan tuan tanah, Dimas pun dapat bernapas lega. Dari duit Rp 50 juta yang ia beri ke Pak Haji, Rp 37 jutanya Pak Haji bayar untuk biayanotaris.

“Padahal itu sudah ngurus balik nama. Berarti saya cuma modal Rp 13 juta,” ujar Dimas tersenyum.

Singkat cerita, beberapa hari kemudian, Dimas akhirnya mencairkan giro sejumlah Rp500 juta untuk melunasi  utangnya ke Pak Haji. Menurut Dimas, kejadian ini adalah sebuah miracle.

Kini setelah 2 tahun berselang, tanah yang Dimas beli sudah berubah wujud. Dari yang dulunya tanah perbukitan, sekarang tanah tersebut menjadi area perumahan bernama Lastana Hill.

Keajaiban demi keajaiban pun Dimas dapatkan.

“Waktu beli tanah Rp500 juta, duit saya sudah habis. Untungnya saya punya kenalan investor yang percaya sama saya. Ia beli 2 unit dengan harga modal bangun Rp 600 juta.”

Dari modal itu, Dimas akhirnya dapat mengurus perizinan, melakukan cut and fill dan membangun unit.

Sedikit demi sedikit, cita-cita Dimas menjadi developer akhirnya terwujud. Satu demi satu, unit yang ia jual terbeli. Kini dari 15 unit di Lastana Hiil, 8 unit sudah terjual.”Tinggal 50%,” ungkap pria yang pernah bekerja di Ray White dan berbisnis agen properti ini.

Keterangan foto: Bukaan yang banyak membuat ruang tamu Lastana Hill terlihat terang dan sejuk

Lastana Hill sendiri memiliki letak strategis karena dekat dengan 2 pintu tol, yakni tol Jatiwarna dan Jatiasih. Dengan tipe bangunan 41, harga unitnya dibanderol dengan harga mulai Rp400 jutaan.

Menurut Dimas, ada 3 kunci penting bagi mereka yang ingin menjadi developer perorangan seperti dirinya.

“Pertama adalah keberanian, kedua adalah pengetahuan dan ketiga adalah integritas,” sebut Dimas.

Di atas semuanya itu, Dimas merasa senang dapat menghadirkan perumahan yang nyaman bagi konsumennya.

“Kalau akad kredit, semua keluarga penghuni hadir mulai dari sanak saudara sampai orangtua, mereka bikin nasi tumpeng. Itu adalah kepuasaan tersendiri bagi saya,” pungkas Dimas.

 

Editor: Gunawan

Comment

Comodo SSL